Pertumbuhan plankton ( pada PLANKTONOLOGI)

Pertumbuhan plankton
a. Penumbuhan plankton dilakukan setelah air di petakan bebas dari kandungan desinfektan. Pada dasarnya, fitoplankton akan tumbuh bila tersedia media, nutrient dan inokulan. Penumbuhan/kultur plankton di tambak tidak lebih dari pada menumbuhkan “native” species meski pada sistem budidaya yang semakin berkembang penambahan inokulan dari luar sistem sudah mulai dilakukan. Kebanyakan species plankton mudah tumbuh. Atmosfer mengandung spora dan bagian vegetatif dari bermacam species. Beberapa jenis burung juga dapat menjadi media penyebaran Fitoplankton. Spora maupun bagian vegetatif dari fitoplankton dapat bertahan hidup di saluran pencernaan dan dikeluarkan bersama faeces.
b. Dibanding dengan faktor pembatas lain, nutrient sepertinya mempunyai porsi terbesar untuk suksesnya penumbuhan plankton. Kebutuhan nutrien untuk pertumbuhan didapatkan dari sekitarnya, sehingga lingkungan harus menyediakan sejumlah nutrien yang diperlukan. Kolam dengan input pakan akan memperoleh tambahan nutrien baik dari sisa pakan maupun hasil metabolisme dari pakan tersebut oleh ikan, udang atau hewan peliharaan yang lain. Sementara kolam-kolam yang mengandalkan kelimpahan pakan alami, nutrient tersedia dari berbagai proses alamiah yang terjadi di ekosistem tersebut. Secara umum, C (Carbon), N (Nitrogen) serta P (Phospor) adalah tiga jenis unsur utama yang secara signifikan banyak berpengaruh terhadap pertumbuhan fitoplankton. Carbon diperoleh dari diffusi gas CO
, sementara N dan P diperoleh dari bahan anorganik. c. Apabila lingkungan tidak dapat menyediakan nutrient sesuai dengan jumlah
2
yang diperlukan, maka penambahan nutrient dari luar mutlak diperlukan sehingga pemupukan adalah bagian yang tak terpisahkan pada tahapan – tahapan penumbuhan plankton.
d. Jenis pupuk anorganik yang umum digunakan adalah Urea (46–0-0), Ammonium phospat (16–20-0) atau superphospat (16–16-16) yang dapat diaplikasikan pada masing-masing 5 – 10 ppm dan 2 – 4 ppm. Pupuk anorganik harus direndam sebelum disebarkan. Jika diberikan dalam bentuk padatan, dikhawatirkan sejumlah pupuk akan terakumulasi di satu tempat di dasar kolam dan akan memicu tumbuhnya plankton dasar.
e. Pemberian inokulan untuk mempercepat tumbuhnya plankton dapat dilakukan dengan menambahkan konsentrat Chlorella, sehingga kepadatan awal di tambak 20.000 sel/ml. Konsentrat Chlorella didapat dengan memflokulasikan kultur Chlorella dengan penambahan soda api. Inokulasi konsentrat Chlorella dapat dilakukan satu hari setelah pemupukan dengan cara menyebarkannya secara merata ke seluruh bagian petakan.
f. Proses tumbuhnya plankton memerlukan waktu beberapa hari sampai dicapainya kondisi yang stabil. Idealnya dalam beberapa hari tersebut warna air akan berubah menjadi lebih hijau atau coklat dengan kecerahan sekitar 40 – 50 cm. Pada perairan-perairan yang sangat miskin atau plankton yang ada telah mati akibat chlorinasi, plankton mungkin tidak akan tumbuh dalam beberapa hari. Atau juga bukan tidak mungkin plankton yang telah tumbuh akan mati dengan tiba-tiba sehingga air akan kembali menjadi jernih. Pada kasus seperti ini disarankan untuk menambahkan sejumlah “ green water” dari kolam lain. Harus dipastikan bahwa kolam donor berada pada kondisi sehat
g. Apabila plankton tidak tumbuh dalam beberapa hari setelah pemupukan, tidak disarankan untuk melakukan pemupukan ulang. Pemupukan ulang pada kondisi air jernih malah akan memacu tumbuhnya klekap (benthic algae). Penambahan dosis pupuk dapat dilakukan pada tambak-tambak dengan type substrat dasar kandungan nutrien lebih rendah, misalnya pada tanah yang banyak mengandung pasir. Penambahan pupuk yang disarankan adalah 5 – 10 % dari dosis normal.


Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

klasifikasi ikan patin (pangasius sp.)

Ikan Patin Pangasius hypopthalmus
Saanin (1984) mengklasifikasi Patin Siam sebagai berikut :
Filum           : Chordata
Sub Filum   : Vertebrata
Kelas           : Pisces
Sub Kelas   : Teleostei
Ordo           : Ostariophysi
Sub Ordo   : Siluroidei
Famili         : Schilbeidae
Genus        : Pengasius
Spesies      : Pangasius hypopthalmus.

Ikan patin ( Pangasius sp. )

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

ECENG GONDOK

ECENG GONDOK

Aspek Biologi Dan Lingkungan
Menurut Sastroutomo (1990) dalam Fahmi (2009) Eceng gondok merupakan tumbuhan air yang berasal dari brazil. Tumbuhan ini menyebar keseluruh dunia dan tumbuh pada daerah dengan ketinggian berkisar antara 0-1.600 m diatas permukaan laut yang beriklim dingin. Penyebaran tumbuhan ini dapat melalui kanal, sungai dan rawa serta perairan tawar lain dengan aliran lambat. Klasifikasi eceng gondok menurut Rizk dan Pav (1991) dalam Fahmi (2009) sebagai berikut :
Kingdom : Embryophytasi phonogama
Filum : magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Liliales
Famili : Pontederiaceae
Genus : Eichornia
Spesies : E. crassipes
Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang kadang berakar dalam tanah. Eceng gondok memiliki tinggi sekitar 0,4-0,8 m dan tidak mempunyai batang. Daun eceng gondoktunggal dan berbentuk oval, ujung dan pangkalnya meruncing , pangkal dan tangkai menggembung, permukaan daunya licin dan berwarna hijau. Bunga eceng gondok termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir kelopaknya berbentuk tabung. Biji eceng gondok berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna hijau serta akarnya merupakan akar serabut (Sutikno 1997 dalam Fahmi 2009).

Eceng gondok diketahui mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan sangat baik sehingga dapat tumbuh dengan cepat pada keadaan kurang subur serta dapat memanfaatkan pula kesuburan yang tinggi. Disamping itu eceng gondok memiliki masa yang besar, tumbuh mengapung diatas permukaan air sehingga mudah dipanen dibandingkan tanaman air lainya. Eceng gondok merupakan tanaman pengganggu yang sulit diberantas. Tumbuhan ini hampir hidup di semua perairan daerah tropis maupun subtropis, selama ini banyak kerugian yang dapat disebabkan eceng gondok, antara lain mengangu irigasi dan pembangkit listrik tenaga air serta bidang perikanan (Sutikno 1997 dalam Fahmi 2009) .

Eceng gondok memiliki kemampuan tinggi dalam menetralkan senyawa-senyawa toksi dalam perairan diantaranya seyawa fenol sebesar 160 kg/ha selama 72 jam, fosfat 157 kg/ha, nitrat 693 kg/ha dan ammonium sebanyak 50 mg/liter selama kurang lebih 15 hari. Selain itu, akar tanaman ini menghasilkan zat alleopathy yang mengandung zat antibiotoka dan juga mampu membunuh bakteri coli. Eceng gondok mempunyai kemampuan menyerap logam berat. Kemampuan ini telah diteliti di laboratorium Biokimia, Institut Pertanian Bogor, dengan hasil yang sangat luar biasa yaitu menetralkan pencemaran, tanaman ini juga mampu menjernihkan/menurunkan kekeruhan suatu perairan hingga 120 mg/liter silika selama 48 jam sehingga cahaya matahari dapat menembus perairan dan dapat meningkatkan produktivitas perairan melalui proses fotosintesis bagi tanaman air lainnya. Selain dapat menyerap logam berat, eceng gondok dilaporkan juga mampu menyerap residu pestisida, contohnya residu 2.4-D dan paraquat.

Akar dari tumbuhan eceng gondok (Eichhornia crassipes) mempunyai sifat biologis sebai penyaring air yang tercemar oleh berbagai bahan kimia buatan industri  (Little (1968) dan Lawrence dalam Moenandir (1990), Haider (1991) serta Sukman dan Yakup (1991) dalam Fahmi 2009). Tumbuhan ini mempunyai daya regenerasi yang cepat karena potongan-potongan vegetatifnya yang terbawa arus akan terus berkembang menjadi eceng gondok dewasa. Eceng gondok sangat peka terhadap keadaan yang unsur haranya didalam air kurang mencukupi, tetapi responnya terhadap kadar unsur hara yang tinggi juga besar. Proses regenerasi yang cepat dan toleransinya terhadap lingkungan yang cukup besar, menyebabkan eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai pengendali pencemaran lingkungan. (Soerjani, 1975 dalam Fahmi 2009). Sel-sel akar tanaman umumnya mengandung ion dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari pada medium sekitarnya yang biasanya bermuatan negatif. Penyerapan ini melibatkan energi, sebagai konsekuensi dan keberadaannya, kation memperlihatkan adanya kemampuan masuk ke dalam sel secara pasif ke dalam gradient elektrokimia, sedangkan anion harus diangkut secara aktif kedalam sel akar tanaman sesuai dengan keadaan gradient konsentrasi melawan gradient elektrokimia (Foth 1991 dalam Fahmi 2009). Di dalam akar, tanaman biasa melakukan perubahan pH kemudian membentuk suatu zat khelat yang disebut fitosiderofor. Zat inilah yang kemudian mengikat logam kemudian dibawa kedalam sel akar. Agar penyerapan logam meningkat, maka tumbuhan ini membentuk molekul rediktase di membran akar. Sedangkan model tranportasi didalam tubuh tumbuhan adalah logam yang dibawa masuk ke sel akar kemudian ke jaringan pengangkut yaitu xylem dan floem, kebagian tumbuhan lain. Sedangkan lokalisasi logam pada jaringan bertujuan untuk mencegah keracunan logam terhadap sel, maka tanaman akan melakukan detoksofikasi, misalyna menimbun logam kedalam organ tertentu seperti akar.

Menurut Fitter dan Hay (1991) dalam Fahmi 2009, terdapat dua cara penyerapan ion ke dalam akar tanaman :

1. Aliran massa, ion dalam air bergerak menuju akar gradient potensial yang disebabkan oleh transpirasi.

2. Difusi, gradient konsentrasi dihasilkan oleh pengambilan ion pada permukaan akar.

Dalam pengambilan ada dua hal penting, yaitu pertama , energi metabolik yang diperlukan dalam penyerapan unsur hara sehingga apabila respirasi akan dibatasi maka pengambilan unsur hara sebenarnya sedikit. Dan kedua, proses pengambilan bersifat selektif, tanaman mempunyai kemampuan menyeleksi penyerapan ion tertentu pada kondisi lingkungan yang luas. (Foth, 1991 dalam Fahmi 2009).

Disamping memiliki banyak manfaat, enceng gondok juga dapat merugikan bagi perairan. Eceng gondok ( Eihornia crassipes) merupakan tanaman gulma di wilayah perairan yang hidup terapung pada air yang  dalam atau mengembangkan perakaranya di dalam lumpur pada air yang dangkal. Eceng gondok berkembang biak dengan sangat cepat, baik secara vegetatif maupun generatif. Perkembangbiakan dengan cara vegetatif dapat melipat ganda dua kali dalam waktu 7-10 hari (Pasaribu dan Sahwalita 2006 dalam Fahmi 2009). Eceng gondok dapat tumbuh sangat cepat pada danau maupun waduk sehingga dalam waktu yang singkat dapat mengurangi oksigen perairan, mengurangi fitoplankton dan zooplankton serta menyerap air sehingga terjadi proses pendangkalan, bahkan dapat menghambat kapal yang berlayar pada waduk. Meningkatnya evapotranspirasi (penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun tanaman), karena daun-daunnya yang lebar dan serta pertumbuhannya yang cepat. Menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air (DO: Dissolved Oxygens). Tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan. Mengganggu lalu lintas (transportasi) air, khususnya bagi masyarakat yang kehidupannya masih tergantung dari sungai seperti di pedalaman Kalimantan dan beberapa daerah lainnya. Meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia dan menurunkan nilai estetika lingkungan perairan.

Untuk mengeliminasi gangguan eceng gondok, misalnya, caranya bisa dengan membatasi populasinya. Pembatasan dapat dilakukan dengan membatasi penutupan permukaan waduk oleh eceng gondok tidak lebih dari 50 persen permukaannya. Akan jauh lebih baik lagi bila pembatasan populasi ini dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar. Sebab, dahan eceng gondok adalah serat selulosa yang dapat diolah untuk berbagai keperluan, seperti barang kerajinan maupun bahan bakar pembangkit tenaga listrik. Namun, masyarakat tidak disarankan untuk memberikan eceng gondok sebagai pakan pada ternak karena polutan yang diserapnya bisa terakumulasi dalam dagingnya.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

ECENG GONDOK (Eichornia crassipes) PEMANFAATAN-NYA SEHINGGA BER-NILAI EKONOMIS

PEMANFAATAN ECENG GONDOK (Eichornia crassipes) SEHINGGA BERNILAI EKONOMIS

Disusun oleh :

1. Ahmad Fauzi (C24080022)
2. Fair Rohmatul Soleh (C240800 )
3. Tafrani (C24080063)
4. Trisda Faulina Santi (C24080067)
5. Putu Cinthia Delis (C24080070)

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Eceng gondok (Eichhornia crassipes) adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Perkembangbiakan eceng gondok sangat tinggi dan cepat sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya. Perkembangan tumbuhan air enceng gondok di perairan sangat pesat. Sekilas tanaman enceng gondok tidak berguna. Bagi masyarakat di sekitar pinggiran sungai, enceng gondok adalah tanaman parasit yang hanya mengotori sungai dan dapat menyebabkan sungai menjadi tersumbat atau meluap karena enceng gondok terlalu banyak. Bagi masyarakat yang tinggal di pinggiran danau, eceng gondok hanya dianggap sebagai tanaman pengganggu yang menghalangi transportasi di danau tersebut dan menyebabkan danau menjadi kotor.
Kenyataan tersebut menyebabkan eceng gondok dianggap sebagai tanaman penggangu, tetapi bila kita jeli mencari peluang, tanaman eceng gondok akan sangat bermanfaat dan dapat memberikan peluang usaha sebagai bahan dasar kerajinan (handy craft). Seiring dengan perkembangan iptek, bagian tumbuhan eceng gondok setelah dikeringkan ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tas wanita yang cantik, kopor, sandal, keranjang (tempat pakaian bekas), tatakan gelas, tikar, nampan dan sebagainya. Akhir-akhir tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung industri mebel den furniture, sebagai pengganti rotan yang harganya sangat mahal.
Banyak daerah yang sudah memanfaatkan eceng gondok sebagai barang-barang kerajinan, mebel den furniture. Antara lain di Purbalingga, Dl Yogyakarta, sekitar Kota Solo, Cirebon, Lampung, Surabaya dan Bali. Bahkan sebagian barang-barang kerajinan eceng gondok dengan model dan kualitas tertentu, banyak diekspor ke Eropa dan Amerika Serikat yang semakin gandrung dengan barang-barang produksi dari bahan-bahan alami (back to nature).
Pembuatan handy craft dari bahan eceng gondok ini dibutuhkan proses yang cukup lama. Eceng gondok terlebih dahulu harus dikeringkan sekitar dua minggu. Setelah eceng gondok mengering lalu dibentuk kepangan panjang yang dilakukan warga dan kelompok perajin. Setelah berbentuk kepangan panjang, eceng-eceng tersebut dianyam menjadi barang yang diinginkan. Untuk lebih meningkatkan daya tarik pembeli, hasil anyaman tersebut ditambahakan cat pernis. Sehingga, tampilannya lebih mengkilap dan menarik. Keuntungan dari penjualan eceng gondok ini cukup tinggi sehingga usaha ini akan sangat menjanjikan untuk kedepannya. Dalam makalah ini, kami akan berusaha untuk memanfaatkan tanaman eceng gondok agar dapat bernilai ekonomis sehingga eceng gondok tidal lagi menjadi tanaman merugikan bagi masyarakat.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dibuatnya makalah ini yaitu untuk memberikan informasi kepada kita bahwa enceng gondok yang dianggap sebagai pengganggu itu dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi bahan baku kerajinan tangan yang nantinya akan bernilai ekonomis tinggi.

II. ECENG GONDOK

2.1 Aspek Biologi Dan Lingkungan
Menurut Sastroutomo (1990) dalam Fahmi (2009) Eceng gondok merupakan tumbuhan air yang berasal dari brazil. Tumbuhan ini menyebar keseluruh dunia dan tumbuh pada daerah dengan ketinggian berkisar antara 0-1.600 m diatas permukaan laut yang beriklim dingin. Penyebaran tumbuhan ini dapat melalui kanal, sungai dan rawa serta perairan tawar lain dengan aliran lambat. Klasifikasi eceng gondok menurut Rizk dan Pav (1991) dalam Fahmi (2009) sebagai berikut :
Kingdom : Embryophytasi phonogama
Filum : magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Liliales
Famili : Pontederiaceae
Genus : Eichornia
Spesies : E. crassipes
Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang kadang berakar dalam tanah. Eceng gondok memiliki tinggi sekitar 0,4-0,8 m dan tidak mempunyai batang. Daun eceng gondoktunggal dan berbentuk oval, ujung dan pangkalnya meruncing , pangkal dan tangkai menggembung, permukaan daunya licin dan berwarna hijau. Bunga eceng gondok termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir kelopaknya berbentuk tabung. Biji eceng gondok berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna hijau serta akarnya merupakan akar serabut (Sutikno 1997 dalam Fahmi 2009).

ECENG GONDOK (Eichornia crassipes)

Gambar 1. Eceng gondok Eichhornia crassipes
Sumber: Anonim1 2010

Eceng gondok diketahui mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan sangat baik sehingga dapat tumbuh dengan cepat pada keadaan kurang subur serta dapat memanfaatkan pula kesuburan yang tinggi. Disamping itu eceng gondok memiliki masa yang besar, tumbuh mengapung diatas permukaan air sehingga mudah dipanen dibandingkan tanaman air lainya. Eceng gondok merupakan tanaman pengganggu yang sulit diberantas. Tumbuhan ini hampir hidup di semua perairan daerah tropis maupun subtropis, selama ini banyak kerugian yang dapat disebabkan eceng gondok, antara lain mengangu irigasi dan pembangkit listrik tenaga air serta bidang perikanan (Sutikno 1997 dalam Fahmi 2009) .
Eceng gondok memiliki kemampuan tinggi dalam menetralkan senyawa-senyawa toksi dalam perairan diantaranya seyawa fenol sebesar 160 kg/ha selama 72 jam, fosfat 157 kg/ha, nitrat 693 kg/ha dan ammonium sebanyak 50 mg/liter selama kurang lebih 15 hari. Selain itu, akar tanaman ini menghasilkan zat alleopathy yang mengandung zat antibiotoka dan juga mampu membunuh bakteri coli. Eceng gondok mempunyai kemampuan menyerap logam berat. Kemampuan ini telah diteliti di laboratorium Biokimia, Institut Pertanian Bogor, dengan hasil yang sangat luar biasa yaitu menetralkan pencemaran, tanaman ini juga mampu menjernihkan/menurunkan kekeruhan suatu perairan hingga 120 mg/liter silika selama 48 jam sehingga cahaya matahari dapat menembus perairan dan dapat meningkatkan produktivitas perairan melalui proses fotosintesis bagi tanaman air lainnya. Selain dapat menyerap logam berat, eceng gondok dilaporkan juga mampu menyerap residu pestisida, contohnya residu 2.4-D dan paraquat.
Akar dari tumbuhan eceng gondok (Eichhornia crassipes) mempunyai sifat biologis sebai penyaring air yang tercemar oleh berbagai bahan kimia buatan industri (Little (1968) dan Lawrence dalam Moenandir (1990), Haider (1991) serta Sukman dan Yakup (1991) dalam Fahmi 2009). Tumbuhan ini mempunyai daya regenerasi yang cepat karena potongan-potongan vegetatifnya yang terbawa arus akan terus berkembang menjadi eceng gondok dewasa. Eceng gondok sangat peka terhadap keadaan yang unsur haranya didalam air kurang mencukupi, tetapi responnya terhadap kadar unsur hara yang tinggi juga besar. Proses regenerasi yang cepat dan toleransinya terhadap lingkungan yang cukup besar, menyebabkan eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai pengendali pencemaran lingkungan. (Soerjani, 1975 dalam Fahmi 2009). Sel-sel akar tanaman umumnya mengandung ion dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari pada medium sekitarnya yang biasanya bermuatan negatif. Penyerapan ini melibatkan energi, sebagai konsekuensi dan keberadaannya, kation memperlihatkan adanya kemampuan masuk ke dalam sel secara pasif ke dalam gradient elektrokimia, sedangkan anion harus diangkut secara aktif kedalam sel akar tanaman sesuai dengan keadaan gradient konsentrasi melawan gradient elektrokimia (Foth 1991 dalam Fahmi 2009). Di dalam akar, tanaman biasa melakukan perubahan pH kemudian membentuk suatu zat khelat yang disebut fitosiderofor. Zat inilah yang kemudian mengikat logam kemudian dibawa kedalam sel akar. Agar penyerapan logam meningkat, maka tumbuhan ini membentuk molekul rediktase di membran akar. Sedangkan model tranportasi didalam tubuh tumbuhan adalah logam yang dibawa masuk ke sel akar kemudian ke jaringan pengangkut yaitu xylem dan floem, kebagian tumbuhan lain. Sedangkan lokalisasi logam pada jaringan bertujuan untuk mencegah keracunan logam terhadap sel, maka tanaman akan melakukan detoksofikasi, misalyna menimbun logam kedalam organ tertentu seperti akar.
Menurut Fitter dan Hay (1991) dalam Fahmi 2009, terdapat dua cara penyerapan ion ke dalam akar tanaman :
1. Aliran massa, ion dalam air bergerak menuju akar gradient potensial yang disebabkan oleh transpirasi.
2. Difusi, gradient konsentrasi dihasilkan oleh pengambilan ion pada permukaan akar.
Dalam pengambilan ada dua hal penting, yaitu pertama , energi metabolik yang diperlukan dalam penyerapan unsur hara sehingga apabila respirasi akan dibatasi maka pengambilan unsur hara sebenarnya sedikit. Dan kedua, proses pengambilan bersifat selektif, tanaman mempunyai kemampuan menyeleksi penyerapan ion tertentu pada kondisi lingkungan yang luas. (Foth, 1991 dalam Fahmi 2009).
Disamping memiliki banyak manfaat, enceng gondok juga dapat merugikan bagi perairan. Eceng gondok ( Eihornia crassipes) merupakan tanaman gulma di wilayah perairan yang hidup terapung pada air yang dalam atau mengembangkan perakaranya di dalam lumpur pada air yang dangkal. Eceng gondok berkembang biak dengan sangat cepat, baik secara vegetatif maupun generatif. Perkembangbiakan dengan cara vegetatif dapat melipat ganda dua kali dalam waktu 7-10 hari (Pasaribu dan Sahwalita 2006 dalam Fahmi 2009). Eceng gondok dapat tumbuh sangat cepat pada danau maupun waduk sehingga dalam waktu yang singkat dapat mengurangi oksigen perairan, mengurangi fitoplankton dan zooplankton serta menyerap air sehingga terjadi proses pendangkalan, bahkan dapat menghambat kapal yang berlayar pada waduk. Meningkatnya evapotranspirasi (penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun tanaman), karena daun-daunnya yang lebar dan serta pertumbuhannya yang cepat. Menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air (DO: Dissolved Oxygens). Tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan. Mengganggu lalu lintas (transportasi) air, khususnya bagi masyarakat yang kehidupannya masih tergantung dari sungai seperti di pedalaman Kalimantan dan beberapa daerah lainnya. Meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia dan menurunkan nilai estetika lingkungan perairan.
Untuk mengeliminasi gangguan eceng gondok, misalnya, caranya bisa dengan membatasi populasinya. Pembatasan dapat dilakukan dengan membatasi penutupan permukaan waduk oleh eceng gondok tidak lebih dari 50 persen permukaannya. Akan jauh lebih baik lagi bila pembatasan populasi ini dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar. Sebab, dahan eceng gondok adalah serat selulosa yang dapat diolah untuk berbagai keperluan, seperti barang kerajinan maupun bahan bakar pembangkit tenaga listrik. Namun, masyarakat tidak disarankan untuk memberikan eceng gondok sebagai pakan pada ternak karena polutan yang diserapnya bisa terakumulasi dalam dagingnya.

2.2 Aspek Tata Produksi
Pada aspek tata produksi pada eceng gondok ini kita memanfaatkan sumberdaya alam yang ada sebagai bahan baku yang cukup melimpah ketersediaanya. Karena eceng gondok sendiri dapat tumbuh dengan cepat sehingga ketersediaanya sebagai bahan baku

Gambar 2. Diagram alir ( flow chart) tata produksi.

Gambar 3. Proses pembuatan briket (Wahyuni 2008)

2.3 Aspek Pemasaran
Aspek segmen pada pemasaran produk hasil eceng gondok ini dapat dipasarkan ke semua segmen dan seluruh kalangan dengan pembagian produk yang berbeda-beda sesuai kebutuhan dan kegunaan masing-masing. Produk hasil pengolahan eceng gondok sebagai kerajinan tangan dapat dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat.

III. PEMANFAATAN ECENG GONDOK

3.1. Bahan Utama (Batang dan Daun)
Eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas karena mengandung serat/selulosa (Joedodibroto, 1983 dalam Fahmi 2009). Pulp eceng gondok yang dihasilkan berwarna coklat namun dapat diputihkan dengan proses pemutihan (bleaching). Pulp juga dapat menyerap zat pewarna yang diberikan dengan cukup baik, sehingga berbagai variasi warna kertas dapat dihasilkan melalui proses ini bagian tumbuhan eceng gondok setelah dikeringkan ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tas wanita yang cantik, kopor, sendal, keranjang (tempat pakaian bekas), tatakan gelas, tikar, nampan dan sebagainya. Malah belakangan ini banyak dimanfaatkan untuk mendukung industri mebel den furniture, sebagai pengganti rotan yang harganya semakin melangit. Hingga saat ini sudah banyak daerah yang mampu mengembangkan eceng gondok untuk pembuatan barang-barang kerajinan, mebel den furniture. Antara lain di Purbalingga, Dl Yogyakarta, sekitar Kota Solo, Cirebon, Lampung, Surabaya dan Bali. Bahkan sebagian barang-barang kerajinan eceng gondok dengan model dan kualitas tertentu, banyak diekspor ke Eropa dan Amerika Serikat yang semakin gandrung dengan barang-barang produksi dari bahan-bahan alami (back to nature).
Pembuatan handy craft dari bahan eceng gondok ini dibutuhkan proses yang cukup lama. Eceng gondok terlebih dahulu harus dikeringkan sekitar dua minggu. Setelah eceng gondok mengering lalu dibentuk kepangan panjang yang dilakukan warga dan kelompok perajin. Setelah berbentuk kepangan panjang, eceng-eceng tersebut dianyam menjadi barang yang diinginkan. Mulai dari pot bunga, tempat sampah, box tissue, tas, topi, perlengakapan dapur hingga furniture. Untuk lebih meningkatkan daya tarik pembeli, hasil anyaman tersebut ditambahakan cat pernis. Sehingga, tampilannya lebih mengkilap dan menarik.
Rata-rata kerajinan ini dijual di pasaran dengan harga mulai dari Rp 15 ribu hingga 5 juta. Tergantung dari ukuran barang dan tingkat kesulitan anyaman.

Berikut adalah langkah-langkah dalam pembuatan karya kerajinan tangan dengan bahan eceng gondok :
• Pengumpulan eceng gondok
• Pemisahan pangkal tangkai
• Pengeringan pangkal tangkai
• Penguliran
• Pembentukan/penganyaman jadi karya seni (Tas, hiasan dinding, dompet, kursi dll)

eceng fauzi et.al (2010)
skema tata produksi fauzi (2010)

Gambar 4. Kerajinan tangan berbahan dasar eceng gondok
Sumber : Anonim 2010

3.2 Pemanfaatan Limbah
Limbah atau sisa dari pohon eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang sudah tidak terpakai, jika diolah dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk. Eceng gondok atau Eichonia crassipes, tanaman hias asal Brazil yang kini sudah menjadi tanaman gulma itu ternyata dapat diolah menjadi pupuk organik. Sisa-sisa penggunaan pupuk kimia oleh para petani di areal persawahan dan perkebunanyang kemudian hanyut ke sungai dan ke danau, menjadikan pertumbuhan dan penyebaran eceng gondok sangat cepat, sehingga sulit ditangani.
Penelitian menunjukan bahwa tanaman eceng gondok banyak mengandung asam humat. Senyawa itu menghasilkan fitohormon yang mampu mempercepat pertumbuhan akar tanaman. Selain itu eceng gondok juga mengandung asam sianida, triterpenoid, alkaloid dan kaya kalsium.
Secara sederhana, pembuatan pupuk organik berbahan eceng gondok adalah sebagai berikut :
• Eceng gondok dicincang atau digiling halus
• Dicampur dengan dedak sebanyak 10%
• Diberi campuran bakteri acetobacter untuk mempercepat dekomposisi. Bakteri acetobacter dicampur dengan molases dengan perbandingan 1:1 selama seminggu. Master bakteri itu siap digunakan setelah berbentuk kapang.
• Campuran bahan tersebut disimpan tertutup selama +/- 4 hari. Bisa dalam bak atau wadah tertutup beralaskan plastik dan ditutup karung goni.
• Kemudian akan terjadi peningkatan suhu campuran bahan tersebut menjadi +/- 50o celcius.
• Dan kemudian proses pembuatan pupuk selesai jika suhu telah turun menjadi +/- 30o celcius.

pembuatan pupuk eceng gondok (Anonim, 2010)

Gambar 6. Sisa hasil produksi eceng gondok yang dimanfaatkan sebagai pupuk

Sumber : Anonim3 2010

Sisa hasil produksi eceng gondok juga dapat dimanfaatkan sebagai biogas dan bahan bakar. Prosesnya cukup mudah dan hanya mengandalkan proses fermentasi. Alat dan cara pembuatannya pun bisa dipraktikkan sendiri baik dalam skala rumah tangga. Pada dasarnya, rangkaian kerja alat ini terdiri dari tiga macam, yaitu alat fermentasi sebagai tempat gas diproses dan dihasilkan, penampung gas, dan kompor gas.
Untuk membuat alat fermentasi, sediakan 2 drum isi 200 liter, 1 meter pipa galpanis 3 inci, 5 meter selang karet/plastik, 3 stop keran setengah inci, 50 meter pipa setengah inci, 6 kleman selang setengah inci, dan gunakan jasa las drum. Sementara untuk alat penampung gas, bisa menggunakan plastik polyethelin yang tebalnya minimal 0,6 milimeter, berdiameter 60 sentimeter (cm), dan tingginya 1,5-2 meter. Plastik ini biasa digunakan sebagai tempat ikan. Jika khawatir dapat terjangkau oleh anak-anak, pembaca juga bisa memanfaatkan drum 100 liter. Selain plastik, yang harus disediakan adalah PVC 3 inci, 4 kenie setengah inci, drat luar dalam, 2 isolatif besar, 4 baut, karet ban dalam, 1 T setengah inci, selang plastik saluran gas, PVC tiga perempat inci 2 liter, 3 stop keran setengah inci, 2 lem paralon, lem aibon, dan 2 plat acritik 150 cm persegi. Untuk kompor bila tidak mempunyai tipe kompor semawar seperti yang biasa digunakan penjual nasi goreng, pembaca bisa membuatnya sendidapat dibuat dan dikreasikan sendiri. Caranya, manfaatkan pipa yang ditutup pada bagian atas dan bawah. Pada tutup atas, bor beberapa titik sebagai tempat keluar gas. Sementara kurang lebih pada seperempat dari panjang pipa, dekat dengan tutup bawah pasang selang yang akan dihubungkan dengan alat penampung gas tadi.

Gambar 7. Eceng gondok sebagai bahan baku biogas
Sumber : Anonim1 2010

IV. KELUARAN ECENG GONDOK

4.1 Hambatan terhadap lingkungan
Eceng gondok masuk ke Indonesia dari Brazilia. Tumbuhan ini mempunyai tinggi 0,3-0,5 m, terapung jika tumbuh di perairan dalam, sedangkan di perairan dangkal akarnya tumbuh di permukaan tanah. Eceng gondok memperbanyak diri secara vegetatif, membentuk kelompok mengapung di atas air. Perkembangannya sangat cepat dan “rakus” minum air. Eceng gondok mampu menyusutkan air waduk Saguling antara 3 sampai 4 kali lebih cepat dibanding jika tidak ada eceng gondoknya. Dari sifat inilah eceng gondok cepat menutupi daerah-daerah perairan air tawar, dan menjadi gulma yang sangat sulit dimusnahkan, menutupi seluruh permukaan air sehingga sinar matahari tidak bisa masuk ke dalam air, dan juga menyumbat saluran-saluran air. Perkembangbiakannya yang demikian cepat menyebabkan tanaman eceng gondok telah berubah menjadi tanaman gulma di beberapa wilayah perairan di Indonesia. Di kawasan perairan danau, eceng gondok tumbuh pada bibir-bibir pantai sampai sejauh 5-20 m. Perkembangbiakan ini juga dipicu oleh peningkatan kesuburan di wilayah perairan danau (eutrofikasi), sebagai akibat dari erosi dan sedimentasi lahan, berbagai aktivitas masyarakat (mandi, cuci, kakus/MCK), budidaya perikanan (keramba jaring apung), limbah transportasi air, dan limbah pertanian.

BLOOMING eceng gondok mengganggu respirasi organisme perairan ( ikan)

Gambar 8. Eceng gondok yang populasinya meningkat sehingga menutupi perairan
Sumber : Anonim1 2010

Salah satu upaya yang cukup prospektif untuk menanggulangi gulma eceng gondok di kawasan perairan danau adalah dengan memanfaatkan tanaman eceng gondok untuk kerajinan kertas seni. Eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas karena mengandung serat/selulosa (Joedodibroto, 1983). Pulp eceng gondok yang dihasilkan berwarna coklat namun dapat diputihkan dengan proses pemutihan (bleaching). Pulp juga dapat menyerap zat pewarna yang diberikan dengan cukup baik, sehingga berbagai variasi warna kertas dapat dihasilkan melalui proses ini. Kertas seni yang dihasilkan selanjutnya dapat digunakan untuk pembuatan berbagai barang kerajinan seperti kartu undangan, figura, tempat tissue dan perhiasan. Pengusahaan kertas seni seperti halnya di kawasan wisata Danau Singkarak, Sumatera Barat memiliki beberapa keuntungan. Pertama, upaya tersebut merupakan alternatif yang sangat baik untuk mengontrol pertumbuhan gulma eceng gondok di kawasan perairan Danau Singkarak. Pengusahaan ini tentunya akan didukung oleh pemerintah daerah setempat karena berdampak positif terhadap upaya pelestarian kawasan perairan Danau Singkarak. Apabila industri kerajinan eceng gondok tersebut berkembang, maka masyarakat pengrajin akan memanen gulma tersebut dari kawasan perairan danau sebagai sumber bahan bakunya. Kedua, pengembangan industri kerajinan tersebut juga akan menyediakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar sehingga akan meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Terakhir, berkembangnya industri kerajinan di kawasan wisata Danau Singkarak akan memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat dengan penyediaan berbagai cenderamata yang berdampak positif terhadap pengembangan sektor wisata di wilayah tersebut.

4.2 Respon Konsumen
Pemanfaaatan eceng gondok dan kertas bekas sebagai kertas seni sudah dilakukan Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sumatera dengan hasil yang cukup memuaskan. Teknologi pengolahannya sangat sederhana, sehingga sangat mudah diadopsi oleh masyarakat sekitar danau. Peluang bisnis kertas seni ini cukup potensial dikembangkan di sekitar Danau Toba sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang memerlukan berbagai jenis souvenir etnik. Pemanfaatan eceng gondok ini memiliki fungsi ganda yaitu dalam rangka mengendalikan gulma di perairan dan sebagai bahan baku souvenir berbahan dasar kertas seni.
Sebenarnya bisnis kertas seni sudah lama digeluti orang-orang yang disebut dengan produk kertas daur ulang. Bisnis ini sudah mulai dikenal luas dan diminati oleh masyarakat, khususnya masyarakat yang tinggal di perkotaan. Produk ini sudah banyak ditemui di etalase-etalase toko berupa souvenir cantik dan bernilai seni tinggi. Di perkotaan bisnis ini banyak dilakukan oleh kaum muda, mahasiswa, dan kelompok pengrajin lainnya. Bisnis kertas seni berbahan eceng gondok dan kertas bekas ini sebenarnya suatu inovasi menggabungkan dua kepentingan. Di satu sisi produk berbahan eceng gondok ini menghasilkan kertas dengan nilai seni yang relatif lebih indah dan di sisi lain adalah upaya pengendalian gulma eceng gondok di perairan Danau Toba. Kata kunci dari bisnis ini adalah punya kemauan besar, kreatif, dan ingin maju. Kerajinan ini sebenarnya merupakan aktivitas sederhana, tapi hasilnya luar biasa dan bernilai positif. Dengan sedikit sentuhan seni, kegiatan tersebut bias menjadi sebuah produk karya seni yang laku di pasaran dengan harga tinggi. Produk-produk ini sudah mulai diusahakan masyarakat dalam skala industri rumah tangga (home industry) sampai skala menengah. Sebagian besar dari produk kertas daur ulang ini adalah sebagai barang kerajinan atau cenderamata. Berbagai produk yang biasa diproduksi dari bahan ini antara lain kartu-kartu ucapan, hiasan dinding, tempat pensil, amplop, blocknote, figura foto, dan lain sebagainya.
Eceng gondok jika diolah dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk, mulsa, media semai, pakan ternak, dan pulp/kertas. Di Jawa Tengah dan di Balige sendiri sudah dikembangkan sebagai bahan baku anyaman. Peluang bisnis ini relative lebih potensial jika dikembangkan di perkotaan. Merupakan suatu tantangan berbagai stakeholder untuk mencarikan sasaran target-target pemasarannya (Muladi, 2001 dalam Fahmi 2009).
Dalam rangka mendukung kelestarian danau dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitarnya, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sumatera telah melaksanakan kegiatan workshop pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan baku kertas seni. Kegiatan ini dilaksanakan bekerjasama dengan Pemda Kabupaten Tobasa pada tahun 2004. Dari kegiatan ini telah terbentuk kelompokkelompok pengrajin pemanfaatan eceng gondok di sekitar Danau Toba.

V. KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Eceng gondok selain dikenal sebagai tanaman yang merugikan karena dapat mengakibatkan pendangkalan terhadap perairan, ternyata eceng gondok juga memiliki berbagai manfaat. Enceng gondok dapat membantu menyerap toksik yang ada di perairan akibat limbah-limbah buangan. Pertumbuhan eceng gondok di perairan juga sangat cepat dan terkadang sulit untuk dikendalikan. Untuk mengatasi masalah tersebut, telah terfikirkan cara untuk memanfaatkan eceng gondok menjadi barang-barang yang bernilai ekonomis.
Pemanfaatan eceng gondok yang bernilai ekonomis dapat berupa hasil kerajinan tangan seperti tas, keranjang, dan hiasan-hiasan. Selain itu eceng gondok juga dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kertas. Limbah hasil produksi dari eceng gondok tersebut masih dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik dan penghasil gas untuk bahan bakar.
Pemanfaatan eceng gondok tidak akan merugikan, selain dapat membantu menyerap racun di perairan, dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kerajinan yang nantinya dapat menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat sekitar. Eceng gondok bukan lagi dikenal sebagai tanaman yang merugikan namun dapat bernilai ekonomis bila pemanfaatannya tepat guna.

5.2 Saran
Makalah ini sebaiknya disebarluaskan kepada masyarakat sehingga wawasan mereka menjadi terbuka mengenai eceng gondok dan dapat memanfaatkanya menjadi barang-barang bernilai ekonomis dan tidak hanya sebagai sampah karena populasinya yang terus meledak.
Manfaat eceng gondok memang banyak sekali, tetapi butuh penelitian lebih jauh mengenai kandungan-kandungan penyusun eceng gondok sehingga pemanfaatannya akan lebih baik dan mungkin saja masih ada manfaat-manfaat lain dari eceng gondok, misalnya untuk konsumsi, obat-obatan, dan yang lainnya.

VI. DAFTAR PUSTAKA

[Anonim1].2010.http://kadokado.indonetwork.or.id.%5B14 Maret 2010]

[Anonim2].2010.http://images.google.co.id.%5B14 Maret 2010]

[Anonim3].2010.www.saungurip.blogspot.com.[14 Maret 2010]

[Anonim4].2010http://www.smallcrab.com/others/66-pupuk-eceng-gondok.[08 Mei 2010]

[Anonim5].http://jalanrejeki.wordpress.com/2009/03/30/kompor-biogas-enceng-gondok/ [08 Mei 2010]

Fahmi.2009.Pemanfaatan Eceng Gondok Sebagai Bahan Baku Pembuatan Briket[Skripsi] Departemen Teknologi Hasil Perairan. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan

LAMPIRAN

profil kita ( Mahasiswa MSP-Fpik-IPB)

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Bayam melunakan cangkang kepiting ( pe- molting-an)

KEPITING lunak atau soft shell crab adalah salah satu makanan laut (seafood) di dunia yang terkenal karena kelezatannya. Produk ini belum dikenal luas oleh masyarakat Indonesia meskipun banyak diproduksi di Indonesia. Hal ini terjadi karena kepiting lunak adalah produk ekspor yang mana permintaan luar negeri jauh lebih tinggi dibanding produksi. Komoditas ini diekspor ke Amerika, Tiongkok,Jepang, Hongkong, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, dan sejumlah negara di kawasan Eropa.Produksi kepiting lunak dilakukan dengan memelihara kepiting secara individu dalam kotak (keranjang buah) yang ditempatkan di dalam tambak hingga molting. Molting adalah proses pergantian kulit secara alami, yakni melepaskan kulit lama yang keras untuk tujuan pertumbuhan. Sesaat setelah molting, kulit kepiting yang baru masih dalam kondisi sangat lunak dan akan mengeras kembali beberapa jam kemudian ketika terjadi penyerapan air. Kepiting dengan kondisi lunak inilah yang dipanen sebagai kepiting lunak. Waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi kepiting lunak berkisar antara satu minggu hingga empat bulan, tergantung ukuran kepiting. Selama pemeliharaan tersebut petani akan memonitor kepitingnya setiap 2-3 jam sekali selama 24 jam. Bila kepiting molting dan tidak diangkat dari air maka dua jam kemudian kepiting sudah akan mengeras kembali. Akibatnya, nilai jual kepiting tersebutmenurun. Periode pemeliharaan yang lama dan waktu molting yang tidak bersamaan merupakan masalah utama dalam produksi kepiting lunak. Molting dapat terjadi pada pagi, siang, sore, atau malam hari. Periode pemeliharaan yang lama menyebabkan biaya pakan dan biaya operasional lainnya menjadi besar. Sedangkan molting yangtidak bersamaan menyebabkan pengawasan harus dilakukan sangat ketat sehingga tenagakerja yang dibutuhkan cukup banyak dengan waktu kerjayang panjang.Untuk mengatasi masalahtersebut, beberapa petani melakukanmutilasi atau menanggalkankaki-kaki kepiting. Tujuannyaagar proses regenerasi anggota gerak yang hilang akan dipercepat secara alami melalui molting.Teknik ini mampu mempercepat kepiting molting. Namun, masalah lain muncul, yakni kematian meningkat dan pertambahan berat setelah molting tidak terjadi, bahkan seringkali minus. Bila kepiting molting tanpa perlakuan mutilasi atau secara alami maka terjadi pertambahan berat sebesar kurang lebih 30 persen. Berdasarkan kendala tersebut maka dilakukanlah serangkaianpenelitian meliputi penelusuran pustaka dan percobaanpercobaan. Hasilnya diketahui bahwa Secara fisiologis, proses pergantian kulit dikontrol oleh hormon molting. Begitu temuan Dosen Fakultas
Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas, Prof Dr Ir YUSHINTA
FUJAYA, MSI dalam penelitiannya baru-baru ini. Dalam penelitian bersama sejumlah rekannya sesama dosen dan beberapa mahasiswa, diketahui bahwa hormon molting ini meningkat drastis menjelang molting. Dengan demikian diduga bahwa penambahan hormon molting eksogen dapat meningkatkan kadar hormon molting dalam darah sehingga molting akan terinduksi. Selain itu,ditemukan bahwa beberapa jenis tanaman mengandung hormon molting yang secara alami digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan hama insekta dan nematoda.
Tanaman bayam dipilih untukdijadikan sumber hormon molting eksogen untuk mempercepat molting pada kepiting budidaya dengan beberapa pertimbanganantara lain: di Indonesia banyak jenis bayam digunakan sebagai sayuran. Karena digunakan sebagai sayuran maka tanaman ini mudah diperoleh dan kesinambungan suplainya terjamin sehingga berpotensi menjadi produk industri. Lebih dari itu, karena bayam adalah sayuran yang menyehatkan maka metabolit yang dikandungnya aman bagi manusia sebagai konsumen.Selanjutnya, dari hasil penelitian yang seksama ditemukan bahwa aplikasi ekstrak bayam dengan dosis dan jadwal pemberian yang tepat mempunyai khasiat untuk menginduksi molting pada kepiting peliharaan. Aplikasi dapat diberikan melalui injeksi dan melalui pakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.Dengan injeksi maka seluruh bahan aktif ekstrak bayam akanlangsung masuk ke dalam darah dan segera mempengaruhi aktivitas molting. Namun memerlukan keterampilan dan peralatan khusus untuk aplikasinya. Sedangkan aplikasi melalui pakan mudah dilakukan karena sama saja dengan pemberianpakan pada umumnya, namun konsentrasi ekstrak yang dibutuhkan dua kali lebih banyak untuk mengantisipasi pakan yang tidak termakan dan yang mungkin larut dalam air karena pakan tidak segera dimakan. Komposisi nutrisi pakan buatan yanglengkap dan seimbang juga menentukan kinerja ekstrak bayamdalam menstimulasi molting. Ekstrak bayam ini telah diujicobakan pada industri budidaya kepiting cangkang lunak komersil di Kalimantan Selatan.
(Prof Dr Ir YUSHINTA FUJAYA, MSI)

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar